Agum Gumelar lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 17 Desember 1945. Beragama Islam, hobby-nya sepakbola, menikah dengan Linda Amaliasari (puteri mantan Menparpostel Achmad Tahir). Dikaruniai 2 orang putra-putri Khaseli dan Ami. Masa SMAnya ditempuh di
Menurut silsilah Agum Gumelar berdarah Kuningan dan memiliki garis keturunan darah biru dari bangsawan kerajaan Mataram yang juga mempunyai kaitan emosional dengan Sunan Kudus.
Demikian menurut penuturan sepupunya,Uhen, yang berdomisili di Lebakwangi.
”Meski beraktekan kelahiran Tasikmalaya tapi ia pituin orang Kuningan,” tutur Uhen seraya melanjutkan bahwa Mbah Buyut Agum Gumelar bernama Ki Ageng Suradipa atau disebut Bapak Gede, cucu dari Sunan Kudus.
Ki Ageung Suradipa menikah dengan anaknya Wirananggapati yang merupakan keturunan raja Mataram. Dari perkawinan itu lahir di antaranya Raksamanggala.
Selintas Perjalanan Karir Agum Gumelar
1973-1976: menjabat sebagai staf Kopkamtib dan Bakin
1987-1988: Wakil Asintel Kopassus
1988-1990: Asisten Intelijen Kopassus
1991-1992: Asisten Intelijen I Kasdam Jaya
1992-1993: Agum jadi Danrem 043/Garuda Hitam Lampung
1993-1994: Direktur A Badan Intelijen dan Strategis (BAIS) ABRI
1993-1994: Komandan Kopassus ke-13
1994-1996: naik pangkat sebagai Kasdam I Bukit Barisan (1994-1996).
1996: menjabat Staf Ahli Pangab bidang Polkam
1996-1998: menjabat Pangdam VII Wirabuana
1998: Gubernur Lemhanas
Oktober 1999: diangkat menjadi Menteri Perhubungan kabinet Persatuan Nasional Gus Dur kemudian menjadi Menhubtel ketika kabinet dirombak.
11 Nov 2000: purnawirawan
2 Juni 2001, menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Menko Polsoskam
9 Agustus 2001 - 2004: Menteri Perhubungan Kabinet Gotong Royong
Ketua Umum KONI Pusat 2003-2007
Mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus TNI AD ini pernah terpilih menjadi Cawapres mendampingi Hamzah Haz dari PPP. Pada saat itu pun ia telah menyatakan tekadnya untuk melanjutkan langkah reformasi.
“Pak Agum memang berlatar belakang militer, tetapi beliau seorang yang keluasan pergaulannya menembus batas kelompok," kata Hamzah Haz ketika itu.
Saat itu pula dalam orasi singkatknya Agum menyatakan beritikad mengubah paradigma pemerintahan dari pemerintah yang berlagak juragan menjadi pemerintah yang bersikap pelayan publik.
Itikad menjadi ‘pelayan publik’ itu dengan tegas dinyatakannya kembali saat memimpin, “artinya saya kembali melayani masyarakat dalam bidang transportasi dan hal itu merupakan amanah masyarakat dalam bidang transportasi yang harus dilaksanakan dengan baik,” ujarnya usai upacara pelantikannya menjabat Menteri Perhubungan dalam Kabinet Gotong Royong (2001-2004).
Lelaki Sunda kelahiran Tasikmalaya, 17 Desember 1945 itu juga dikenal sebagai orang yang berani melawan arus. Akibatnya ia kerap menjalani mutasi ke berbagai pos penugasan. Selepas dari Bukit Barisan misalnya, lulusan Akademi Militer Nasional 1969 ini kembali ke Jakarta dan menjabat sebagai staf ahli Panglima ABRI.
Beberapa pihak menduga saat itu – sebagai staf ahli Panglima ABRI- karir Agum bakal lenyap tertelan zaman. Namun, ternyata dugaan ini tidak terbukti. Sebab, kemudian ia ditugaskan ke Ujungpandang untuk memimpin Kodam Wirabuana VII. Setelah itu Panglima ABRI memanggilnya ‘pulang’ untuk menduduki jabatan sebagai Gubernur Lemhanas.
Bahkan, setelah reformasi karirnya makin berkibar. Pada kabinet Gus Dur ia dipercaya menjabat Menteri Perhubungan dan Telekomunikasi. Lalu menjabat Menko Polsoskam, sebuah jabatan yang memang cocok dengan latar belakangnya sebagai seorang prajurit. Kemudian, mantan Komandan Jenderal Kopassus –satuan elite TNI Angkatan Darat- ini dipercaya Megawati kembali memimpin Departemen Perhubungan Kabinet Gotong Royong.
Pada Musornas KONI di Wisma Serba Guna Senayan,
Agum menempuh pendidikan SD hingga SMA di Bandung. Setelah lulus SMA tahun 1964, ia sempat kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran selama setahun. Kemudian ia masuk Akademi Militer Nasional (AMN) di Magelang (1968), seangkatan dengan Sutiyoso. Lulus pendidikan Sekolah Staf dan Komando TNI Angkatan Darat (Seskoad) tahun 1985, Sesko ABRI tahun 1991, di samping juga memperoleh gelar Master of Science (MSc) dalam bidang Manajemen dari
Sepanjang karier militernya, Agum pernah bertugas sebagai Staf Kopkamtib dan Bakin (1973-1976), terjun dalam Operasi Penumpasan Pemberontakan PGRS/Paraku di Kalimantan Barat, Operasi Seroja di Timor Timur, dan Operasi Penumpasan GPK di Aceh dan Irian Jaya.
Ia pernah pula menjabat Wakil Asintel Kopassus (1987-1988), Asisten Intelijen Kopassus (1988-1990), Asisten Intelijen I Kasdam Jaya (1991-September 1992), Komandan Korem 043/Garuda Hitam Lampung (1992-1993), Direktur A Badan Intelijen dan Strategis (Bais) ABRI (1993-1994), Komandan Kopassus ke-13 (1993-1994), Kepala Staf Kodam I Bukit Barisan (1994-1996), staf ahli Panglima ABRI bidang Polkam (1996), Panglima KodamVII Wirabuana (Agustus 1996-1998), dan Gubernur Lemhannas (1998). Agum pensiun 10 November 2000 dengan pangkat terakhir jenderal kehormatan (
Karier politiknya dimulai ketika dipercaya sebagai Menteri Perhubungan (29 Oktober 1999-26 Agustus 2000), Menteri Perhubungan dan Telekomunikasi (26 Agustus 2000-1 Juni 2001), Menko Bidang Politik Sosial dan Keamanan (1 Juni 2001-23 Juli 2001) merangkap Menteri Pertahanan (10 Juli 2001-23 Juli 2001), dan Menteri Perhubungan Kabinet Gotong Royong (10 Agustus 200-4004).

